Kamis, 27 Agustus 2009

Herbal Pemecah Batu Ginjal

Di buat Oleh : DiaryNadya di Kamis, Agustus 27, 2009
Reaksi: 
‘Thing.’ Suara batu seukuran gabah membentur kloset. Batu berwarna cokelat terang keluar ketika Lorenzo Romero Banning berkemih. Konsultan pertambangan di Cinere, Kotamadya Depok, Jawa Barat, itu memang mengidap batu ginjal. Ia hafal betul, tubuhnya merinding setiap kali ia mengeluarkan batu.

Terakhir kali 2 batu ginjal keluar pada 31 Oktober 2007 masing-masing pada pukul 17.10 dan 18.10. Kejadian itu terus terulang sejak 1979, setahun setelah mantan mekanik di perusahaan penerbangan Australia itu divonis batu ginjal. Sebuah batu ginjal seukuran biji rambutan bersarang di ginjal kiri. Sedangkan batu ginjal yang menyumbat saluran kemih lebih kecil ukurannya.

Banning merasakan gejala batu ginjal sejak 1970. Ketika itu ia pingsan di sebuah kamar hotel di Surabaya karena menahan sakit di pinggang. Sejak kejadian itu, ke mana pun menyetir mobil ia harus mengganjal bagian pinggangnya dengan botol berisi air panas. Itu untuk mengurangi rasa sakit. Bahkan, ayah 3 anak itu pernah menempelkan lap yang disiram air mendidih di bagian pinggangnya. Sayang, tindakan itu tak menyelesaikan masalah.

Menurut dr Ahmad Bi Utomo, SpBU, batu ginjal seperti yang dialami Banning akibat kelebihan garam dalam aliran darah. Kemudian garam mengkristal menjadi seperti batu. Dokter spesialis bedah urologi itu mengatakan gangguan metabolisme tubuh akibat menumpuknya kadar zat tertentu juga memicu batu ginjal. Penyebab lain adalah serangan bakteri dan kelainan saluran pencernaan.

Demi mencegah batu ginjal, Ahmad Bi Utomo menyarankan untuk melakukan pola hidup seimbang. Contoh mengkonsumsi minimal 2 liter air putih setiap hari. Selain itu konsumsi protein dan nonprotein mesti seimbang. Konsumsilah makanan berserat dan buah yang bersifat diuretik seperti semangka, pepaya, apel, wortel. Penderita batu ginjal sebaiknya menghindari sawi Brassica juncea. Sayuran daun itu mengandung oksalat, pemicu endapan di ginjal.

Herbal
Tak tahan dengan derita itu, Banning berobat ke dokter. Pilihannya hanya satu: operasi. Pria yang kini berusia 73 tahun itu menolak. Ia lebih memilih pengobatan herbal seperti disarankan kemenakannya. Dokter sekaligus herbalis yang dikunjunginya meresepkan masing-masing 10 g kumis kucing kering, meniran, keji beling, dan temulawak. Bahan lain adalah pegagan, rimpang kunyit, dan daun sambiloto masing-masing 5 g kering.

Pria yang fasih berbahasa Inggris, Spanyol, dan Vietnam itu mencuci bersih dan merebus semua bahan dalam 5 gelas air. Setelah mendidih dan air tersisa 3 gelas, ia mendinginkannya. Banning menyaring dan meminum hasil rebusan 3 kali sehari masing-masing segelas. ‘Saya baru pertama kali itu meminum jamu. Bahkan, sebelumnya saya tidak kenal jamu,’ ujar pria kelahiran Manila, Filipina, 3 Mei 1935.

Meski pahit, Banning disiplin mengkonsumsi rebusan itu lantaran ingin sembuh. Beberapa hari kemudian, ia merasakan tubuhnya lebih lega dan lebih segar. Dua bulan berselang, ia terkejut ketika berurine. Di penghujung berkemih ia mendengar bunyi, ‘ting’. Sumber suara itu adalah batu seukuran biji kedelai. Itulah batu yang pertama keluar pada 29 September 1979.

Setiap tahun batu-batu itu keluar. Pada 1980, sebuah batu kembali keluar. Terakhir kali Banning mengeluarkan batu pada Oktober 2007. Ia mendokumentasikan batu-batu ginjal yang keluar dari tubuhnya. Bagaimana duduk perkara keluarnya batu ginjal? Menurut dr Johnny Sidhajatra, dokter dan herbalis di Tangerang, Banten, kumis kucing, meniran, dan keji beling lazim untuk mengatasi batu ginjal.

Ramuan itu menggempur batu ginjal secara perlahan-lahan. ‘Persis orang yang makan permen, lama-lama mengecil,’ kata dr Johnny. Sedangkan campuran temulawak, pegagan, serta kunyit membantu dan memperkuat saluran pencernaan. Adapun sambiloto sebagai antiinfeksi dan antiperadangan.

Ahmad Bi Utomo mengatakan herbal seperti keji beling berfungsi sebagai diuretik alias peluruh urine. Pengeluaran urine jadi banyak sehingga dapat membantu mengeluarkan batu ginjal.

Terbukti
Ampuhnya kumis kucing Orthosiphon aristatus terbukti meluruhkan batu kandung kemih. Sebanyak 40% pasien-total 23 orang-mengecil ukuran batu kandung kemihnya hingga 0,5 cm setelah rutin mengkonsumsi kumis kucing. Itu dibuktikan oleh Muangmun, periset Mahidol University Bangkok, Thailand. Tumbuhan anggota famili Labiatae itu mengandung orthosiphon glikosida, saponin, sapofonin, garam kalium, myoinositol.

Kadar sinensetin dalam daun kumis kucing yang tertinggi terdapat dalam daun tua yang berbunga (0,365%), sedangkan yang terkecil berasal dari daun muda yang berbunga (0,095%). Zat-zat itulah yang bertanggung jawab sebagai antiinflamasi, diuretik, dan penggelontor endapan di ginjal.

Agus Tri Cahyo dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada membandingkan khasiat kumis kucing dan tempuyung sebagai peluruh batu ginjal. Pada kadar infus 5%, 7,5% dan 10%, kadar kalsium batu ginjal terlarut dalam infus daun kumis kucing lebih baik ketimbang infus daun tempuyung. Namun, ketika kadar infus diturunkan menjadi 0,5%, 1%, dan 2%, kadar kalsium batu ginjal terlarut dalam infus daun tempuyung justru lebih baik. Bahan lain adalah daun keji beling Sericocalyx crispus.

Anggota famili Acanthaceae itu mengandung alkaloida, saponin, flavonoid, dan polifenol. Uji praklinis membuktikan esktrak daun keji beling berdosis 16,5 mg/kg bobot tubuh mencegah pembentukan batu kandung kemih. Lalu meniran? Tumbuhan itu mengandung filatin, hipofilatin, kalium, dan tanin. Dengan kombinasi seperti itulah penderitaan Banning akibat batu ginjal terurai. (Faiz Yajri)(majalah Trubus)

0 Kasih komentar:

Posting Komentar

thanx buat commentnya ya, jangan bernada spam ya :)

 

Diary Nadya Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review